Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Sayangnya, Dia Bukan Pacarku

  • Senin, 20 Juni 2011
  • Malika Nur Azkiyah
  • Label:



  • Hari ini Syifa berangkat lebih awal dari biasanya. Begitu sampai di kelas, ia memandang ke luar melalui jendela. Ia tersenyum-senyum begitu melihat seseorang lewat. Dengan jaket yang masih membalut tubuhnya, tas hitam menggandol di pundaknya serta caranya berjalan. Syifa memandanginya hingga tak terlihat lagi.
    “Syifa, kamu cepet banget datangnya!” Nabila yang baru datang menyapanya. Syifa tersenyum.
    “Emang nggak boleh? Hehehe...” sangkalnya.
    “Oiya, ada PR, kan? Kamu udah ngerjain?” tanya Nabila sambil mengeluarkan bukunya.
    “Iya, udah.” Jawab Syifa singkat. Nabila langsung menatap Syifa dengan terharu, lalu berkata,
    “Oh, terimakasih, Tuhan. Engkau beri aku sahabat yang rajin,” Nabila meraih buku Syifa.
    “Iiiih, kapan, sih kamu menghargai nama PR,” Keluh Syifa.
    Aku ngehargain jenenge PR, kok! PR, Pekerjaan Ra sah digawe. Hahaha...” suara tawanya pelan tetapi sangat ia jiwai. Saat itu seorang perempuan cantik datang menghampiri tempat duduk Syifa.
    “Eh, Shena. Ada apa?” sapa Syifa.
    “Syifa, boleh nggak, aku nyocokin PRmu sama PRku?” tanyanya lembut. Atau lebih tepat ‘sok dilembutkan’.
    “Tapi sekarang masih dipinjam Nabila. Sini bukumu, biar aku lihat mana yang beda,” Syifa mengulurkan tangannya ke arah buku yang diapit Shena. Dengan sigap Shena menghindar. Tidak ingin bukunya disentuh oleh Syifa.
    “Nggak usah, deh. Nggak jadi,” Shena tersenyum. “Ntar malah dicontekin,” Lanjutnya sambil berpaling dan beranjak menjauh. Syifa mendelik mendengar apa yang dikatakan Shena.
    “Hiiih! Tu anak! Untung bukan buah-buahan. Kalo dia buah, udah dari tadi kumakan!” hujat Nabila yang sedari tadi juga mendengar ucapan Shena.
    “Jangan gitu. Kalo dia buah, berarti dia belum matang. Ntar kecut, lho,” Tutur Syifa sabar.
    “Emang dia asem!” teriak Nabila. Ia tak peduli ketika ‘Si Buah Belum Matang’ itu langsung meliriknya dengan kesal. Syifa tertawa.
    Saat bel masuk berbunyi, semua siswa masuk dan duduk dengan tenang. Seorang guru datang dan mengabsen.
    “Sambil Ibu absen, bawa PRnya ke depan!” tutur Sang Guru tegas. Terdengar desahan-desahan kecil dari anak-anak yang belum mengerjakan Prnya. Nabila sudah tenang, sebab PRnya telah selesai. Ia hanya melihat pekerjaan Syifa untuk beberapa bagian yang masih kosong.
    “Syahrina!” panggil Bu Guru. Shena berdiri. Seperti beberapa temannya yang tidak bisa menunjukkan pekerjaannya, ia keluar. Melihat hal itu, Nabila tidak bisa menahan diri.
    “Waw! Lihat gak tuh, Fa?” bisiknya. Syifa mengangguk dan tertawa pelan.
    “Untung kita nggak jahat, ya. Kalo nggak udah kita teriakin dia!” kata Nabila lagi. Syifa mengangguk-angguk.
    .xXXXx.
    Syifa piket hari ini. Karena tadi ia datang agak terlambat, ia tidak sempat membersihkan kelas. Alhasil, saat istirahat, ia ditugasi untuk mengambil buku di perpustakaan untuk bahan pelajaran setelah istirahat.
    “Nab, temenin aku, yuk?” ajak Syifa penuh harap.
    “Waduh, aku laper banget, Fa. Ku temenin sampe perpus aja, ya. Trus aku ke kantin, kamu ke perpus. Oke?”
    “Hmmm... Okelah.”
    Sambil berjalan menuju perpustakaan, mereka berbincang,
    “Aku suka sama si Reza, lho! Hehehehe...” aku Nabila.
    “Suka?! Beneran?” Syifa tak percaya. Sahabatnya, kini...
    “Iya. Dia kan cakep, baik, pintar. Aku jadi suka, deh, sama diaa!!” ucapnya tanpa beban. Syifa masih melongo.
    “Mingkem, dong, Fa!” Nabila mengatupkan mulut Syifa.
    “Are you sure?” tanya Syifa serius.
    “Iyaaaaaa! Aku tuh udah lama pengen bilang. Tapi gak sempat-sempat. Hehehe...”
    “Jadi, kamu mau gimana?” tanya Syifa lagi.
    “Aku pengen dia bisa jadi sama kamu! Hehe... kalian cocok, sih!” kata-kata Nabila membuat Syifa tak mengerti.
    “Tunggu, tunggu. Aku nggak ngerti,” Syifa kebingungan. Nabila makin girang.
    “Dia sepupu aku, tau, saiy! Hahaha... Udah dari kecil. Jadi susah buat suka beneran sama dia. Makanya aku pengennya dia jadi sama kamu!” jelas Nabila. Syifa masih bingung. Matanya berbentuk tanda tanya.
    “Ah, udah, ah. Ntar lagi aja. Udah mau bel, nih. Daah!” Nabila berbelok ke arah kantin. Sedangkan Syifa terus maju ke perpustakaan.
    Dasar Nabila aneh-aneh aja! Batinnya. Ia segera meminjam buku. Ternyata gurunya sudah memesan dan bukunya tinggal diambil. Dan...
    “Lho, 35 buku, Pak? Banyak banget!” Syifa menatap buku paket yang bertumpuk-tumpuk tinggi di hadapannya. Untung saja bukunya tidak terlalu tebal. Pelan-pelan, ia mengangkat buku-buku itu. Dengan dua tangan, buku itu tertumpuk hingga menutupi wajahnya. Baru saja beberapa langkah dari pintu keluar perpustakaan, ia ditabrak oleh sesosok tubuh tinggi dan buku-bukunya pun jatuh berantakan.
    “Astaghfirullaaah!” ucap Syifa memandangi buku yang berserakan. Lalu dengan pasrah melihat siapa yang menabraknya. Seraut wajah tampan memandangnya penuh penyesalan.
    “Maaf,” ucapnya. Syifa mencoba tabah dan membungkuk mengambili buku-bukunya. Lelaki itu dengan sigap membantu Syifa.
    “Maaf, Fa...” katanya lagi. Syifa tersenyum. Cuma hal sepele, pikirnya.
    “Iya, iya. Nggak apa-apa kok,” Jawab Syifa tulus. Ia berdiri dengan buku sudah di tangan. Begitu pula anak lelaki itu.
    “Aku bantu, ya,” Katanya. Syifa mengangguk. Mereka berjalan beriringan menuju kelas dengan menenteng buku. Dari jauh Nabila terkikik senang melihatnya. Rencana menyuruh Reza buru-buru ke perpustakaan berhasil.
    Sesampainya di depan kelas, ia melihat Shena di koridor kelas sedang berbicara dengan lelaki yang ia perhatikan tadi pagi, Naufal! Shena tampak sangat senang. Namun Naufal tetap menjaga wibawanya. Shena terlihat mendekati Naufal hingga Syifa muak melihatnya. Dengan muka manyun, ia masuk ke dalam kelas. Namun saat itu juga Naufal melihatnya.
    “Syifa!” panggilnya. Syifa tetap masuk dan menaruh buku-buku dari perpustakaan di atas meja guru. Begitu pula Reza.
    “Makasih, Za. Udah mau bantu,” Kata Syifa.
    “Aah, tadi aku juga yang salah,” Reza tersenyum manis. Tiba-tiba Naufal menghampiri Syifa.
    “Bisa bicara sebentar?” tatap Naufal serius di balik kacamata minusnya. Syifa mengangguk. Naufal berjalan keluar menuju bagian koridor yang sepi, diikuti Syifa. Setelah berbicara sebentar, Naufal menyerahkan sesuatu pada Syifa. Setelah itu mereka berpisah.
    “Ada apa, sih?” tanya Nabila pada teman-teman perempuannya yang tau-tau sudah asyik menonton. Ketika Syifa berbalik, ia begitu kaget melihat teman-temannya yang berkerumun.
    “Kamu ada apa sama Mas Cakep?” tanya salah seorang teman yang merupakan komplotan Shena. Tenang, santai, no-emosi. Berbeda dengan Shena:
    “Kamu gak usah terlalu berharap, ya! Dia itu Mas Cakepku!” tegas Shena. Syifa mendelik mendengar kata-kata ‘Mas Cakep’. Ia heran mengapa anak ini begitu galak dan jutek begitu menyangkut masalah Naufal. Ia tahu Naufal adalah mantan ketua OSIS yang berwajah tampan, perawakan tinggi, pintar dan berprestasi. Sebenarnya ia juga anak yang alim. Ia tidak suka terlalu dekat dengan perempuan yang bukan mahromnya. Tapi ia begitu friendly dan ramah pada siapapun.
    “Hiih, tadi itu cuma masalah OSIS tau! Lagian aku nggak suka sama Kak Naufal, kok!” Syifa jengah. Ia menyeruak masuk ke kelas menembus kerumunan itu. Bersamaan dengan bel masuk berbunyi.
    .xXXXx.
    “Aku heran, deh! Kenapa, sih, anak-anak terutama Shena tuh seneng banget sama Kak Naufal?” Syifa mengeluarkan isi hatinya pada sahabatnya, Nabila. Saat itu mereka sedang berjalan menuju mesjid sekolah.
    “Hmm... itu wajar, deh, kayaknya. Kak Naufal kan mendekati sempurna,” Nabila tersenyum.
    “Semua manusia itu lebih sempurna dibanding makhluk lainnya, Nab. SEMUA, bukan cuma Kak Naufal.”
    “Kamu cemburu, ya, Fa?” tuduh Nabila membuat Syifa malu. Baru saja Syifa mau angkat bicara, tiba-tiba Shena yang sedari tadi menguping dari belakang muncul menghadang mereka.
    “Oooh, jadi gitu, ya? Sok bilang nggak suka sama Mas Cakep! Sok jual mahal!” Shena berkelakar.
    “Shena, kalo ngomong suaranya gak usah gede banget gitu, deh!” kata Syifa melihat sekelilingnya mulai melirik mereka.
    “Kenapa? Malu? Takut?” suaranya makin meninggi. Syifa tahu Shena tak bisa diajak kompromi. Bagaimanapun, ini di depan umum. Syifa menarik tangan Nabila dan berjalan menjauhi Shena.
    “Heh, heh! Kalian mau kemana? Selesein masalah ini secara jantan! Gak tahu malu!” teriaknya. Syifa dan Nabila menunduk berharap orang-orang tidak mengenali mereka.
    “Secara jantan? Kita kan betina, ya?” pelan Nabila. Mereka terkikik.
    .xXXXx.
    Di depan kelas XII IPA 1, mereka dicegat oleh Naufal.
    “Rapatnya di sini,” Katanya. Mereka berbincang di bawah pohon yang rindang sambil menunggu anggota OSIS lain datang.
    “Siapa lagi yang belum datang?” tanya Syifa.
    “Kalo yang dari kelas kalian, tinggal si Reza,” Jawab Naufal. Nabila menyikut Syifa.
    “Ditelpon sana! Hehehe...” katanya. Syifa menggeleng.
    “Hahaha. Kamu malu, ya?” Nabila tertawa. Naufal hanya tersenyum.
    “Malu kenapa?” tiba-tiba Reza datang dan menyalami Naufal. “Sori telat, Kak. Habis makan. Hehe...” ucapnya.
    “Santai aja,” sahut Naufal. Satu per satu anggota OSIS datang dan tepat pada waktunya, rapat pun dimulai. Setengah jam, satu jam, dua jam. Di luar ruang OSIS seorang perempuan cantik dengan gelisah menunggu.
    “Pokoknya ini harus diselesaikan sekarang!” gumamnya. Beberapa saat kemudian, rapat selesai dan para anggota OSIS keluar. Namun Naufal, Reza, Syifa dan Nabila belum keluar. Saat sekitar ruang OSIS mulai sepi, perempuan itu masuk.
    “Lho, Shena. Ada apa?” sambut Syifa. Tanpa mempedulikannya, Shena langsung duduk di depan Naufal.
    “Kak, ada hubungan apa Kakak sama Syifa?” tanyanya. Naufal memandang Syifa dengan heran. Mendengarnya, Nabila langsung berkata,
    “Memang ada hubungannya sama kamu?”
    “Kak, aku tahu bagaimana Syifa di kelas. Dia dekat sama Reza!” ucapnya. Reza langsung mendelik ke arah Shena. Sedangkan jari Syifa mulai mencubiti bibir bawahnya.
    “Tapi aku sering lihat dia datang pagi-pagi terus ngelihatin kakak yang baru datang dari jendela kelas. Sambil senyum-senyum lagi! Aneh banget tau! Hiiih!” sambungnya berapi-api.
    “Dia itu sok alim! Sok suci! Sok gak mau disentuh sama cowok! Padahal...” Shena melirik sinis ke arah Syifa. Syifa tak kalah melirik jengkel Shena.
    “Pokoknya dia gak seperti yang Kakak bayangin!” tuturnya cepat. Naufal mengangguk-angguk sambil tersenyum. Syifa menunduk. Shena senang. Ia merasa menang. Maka dengan angkuh ia berkata,
    “Jadi, sekarang aku tanya, Kakak ada hubungan apa sama Syifa?”
    “Syifa? Sayangnya, dia bukan pacarku,” kata Naufal. Hati Shena melonjak kesenangan. Telah terbayang rencananya menjadi pacar Naufal yang keren, pintar dan tampan itu.
    Ya, dia bukan pacarku. Dia itu tidak lebih dari…” Naufal Memutus kalimatnya sambil melirik Syifa yang tampak tak acuh. “Nggak lebih dari adik kandungku,” lanjutnya sambil merangkul bahu Syifa. “Sebetulnya aku gak suka kalau hubunganku dan Syifa ini banyak yang tahu. Jadi sebisa mungkin kututup-tutupi. Cuma sebagian kecil saja yang tahu.”
    Shena terbelalak. Processor di otaknya masih kepayahan mengolah kenyataan yang baru saja terungkap. Naufal, adalah kakak kandung Syifa? Dan ia yang berencana menjadi pacarnya, seharusnya bisa memperlihatkan sifat dan prilaku terbaiknya. Tapi yang telah terjadi adalah sebaliknya. Ia menjelek-jelekkan adik orang yang ia sukai itu di depannya.
    Aku tinggal serumah sama dia. Dan aku baru tahu kalau dia di sekolah kayak gitu. Makasih, ya, udah ngasih tau,” dengan ramah Naufal tersenyum.
    “Terus, kenapa tadi dia bilang dia cemburu sama Kakak?” tanya Shena.
    “Ya, aku cemburu sama Kak Naufal yang bisa dapetin kepopuleran di sekolah. Selalu aja begini! Tapi lihat aja, kalo udah aku yang menjabat jadi Ketos di sini, aku juga bakal populer. Hehehe,” Jelas Syifa sambil tersenyum melihat kakaknya.
    “Satu lagi,” kata Syifa. “Tadi pagi aku ngeliatin Kak Naufal soalnya dia tadi pagi sebelum berangkat, sempat nggak sengaja jatuhin motornya. Bukannya marah, Ummi sama Abi malah ngetawain Kak Naufal. Aku tadi cuma mau lihat, Kak Naufal jalannya pincang apa gak, habis kejatuhan motor. Hehe..” jelas Syifa.
    “Nah, sekarang masih ada yang kurang jelas, Nona Arogan?” Tanya Naufal sambil menghadapkan wajahnya tepat di depan Shena yang matanya berkaca-kaca menahan malu. Sedetik kemudian Shena menunduk dengan muka yang memerah. Tanpa berkata apa-apa ia berdiri dan berlari pulang. Nabila, Reza, Naufal dan Syifa tersenyum.
    “Jadi, kamu dekat sama Reza?” kini Naufal mengganti topik pembicaraan, yakni menghakimi adiknya.
    “Maaf, Kak. Kita sekelas, jadi kita dekat. Kita sekelas semuanya dekat, kok,” Reza yang angkat bicara.
    “Tapi kalau aku izinkan kamu jaga adikku ini, kamu menyanggupi gak?” umpan Naufal. Syifa tersenyum sambil menunduk malu.
    “Sanggup! Jadi Kak Naufal merestui, nih? Alhamdulillah!” serunya. Syifa dan Nabila saling pandang. Ternyata Reza juga ada rasa? Batin Syifa. Nabila sendiri sudah tahu kalau sepupunya itu tertarik pada sahabatnya. Ia sering cerita padanya.
    “Yeee! Gak sekarang, Za. Nanti kalo udah waktunya,kata Naufal. Yang lain tertawa.
    “Oke! Insya’ Allah, aku bakal nunggu,” Reza tersenyum. Lalu melirik Syifa yang tersipu malu.
    Ya Allah, gadis sholeh ini. Semoga benar-benar jadi milikku. Amiin. Doanya dalam hati.
    .xXXXx.

    0 komentar:

    Posting Komentar

    (c) Copyright 2010 Azkiyah Wish. Blogger template by Bloggermint